Mana yang benar, 1.000 startup atau 2.000 hingga 2020? Asal bermutu saja!

Judul yang dilansir beberapa kanal berita hari ini memang catchy: 2020, 1.000 startup berkualitas lahir di Indonesia.

Sumber berita dari Menkominfo Rudiantara bersama Chief Executive Kibar Kreasi Yansen Kamto dan Partner Convergence Ventures Donald Wihardja menginisiasi gerakan 1.000 startup di Indonesia hingga 2020.

Yansen mengatakan bahwa Indonesia berpotensi menjadi ladang emas lahirnya startup berkualitas yang sanggup bersaing dengan kancah global.

Saat ini, Yansen mengungkapkan, tengah dicanangkan program yang dapat melahirkan lebih dari 1.000 startup lokal yang berkualitas. Diharapkan ribuan perusahaan rintisan itu akan muncul lima tahun lagi.

“Targetnya 1.000 startup. Itu total di tahun 2020. Kami maunya setiap tahun bakalan ada 200 startup berkualitas lewat proses inkubasi dan pendampingan yang tepat supaya bisa berkembang dengan baik,” kata Yansen. 

Penjelasan itu sepertinya kurang pas secara matematika. Jika tiap tahun 200 startup, berarti dalam 10 tahun mendatang ada 2.000, bukannya 1.000. Mungkin karena saking bersemangat jadi salah hitung. Membayangkan 100 startup setiap tahun saja sudah ‘keren’ apalagi 200. Wow!

Tapi di tempat lain, Yansen memperjelas pesan bahwa bukan jumlahnya yang penting tapi kualitasnya.

Menurut Yansen, tidak semata-mata mengejar jumlah, program tersebut dimaksudkan sebagai proses pembelajaran agar terlahir model bisnis yang matang, melalui kerja sama dan kemitraan dengan pihak inkubator, investor, venture capital, angel investor, mentor dan pihak terkait lainnya.

“Tujuan utama kami sebagai inisiator di antaranya menciptakan ekosistem startup yang lebih luas dan kaya sehingga mampu melahirkan perusahaan teknologi skala besar dan membawa masyarakat Indonesia menuju ekonomi digital,” kata Yansen sebagaimana dikutip Daily Social.

“Rencananya kita akan tampung 8.000 ide terbaik dari calon teknopreneur, dari situ akan kita pilih sekitar 200 startup baru untuk kita berikan pendanaan setiap tahunnya, kita harapkan 3-5 dari startup tersebut bisa menjadi startup unicorn.”

“Kami maunya ada perubahan di industri startup Indonesia. Selama ini, kami cuma dianggap pasar. Padahal, kami punya potensi yang lebih besar dari sekadar jadi pasar produk perusahaan global. Sekarang waktunya jadi produsen,” kata dia.

Semangat untuk membangun industri startup memang perlu diapresiasi. Meskipun di sisi lain, Indonesia perlu belajar dari pemain-pemain global mengingat sudah banyak pengalaman startup yang hanya seumur jagung. Belum lagi problematika yang menggelayuti perusahaan yang dulunya startup dan sekarang sudah menjadi raksasa teknologi namun terancam bangkrut seperti di ulas di artikel: Startup Indonesia: Akankah segera ramai-ramai binasa?


Post a Comment

0 Comments