Masyarakat Yang Tak Waras?

Talkshow di sebuah radio pagi ini menghadirkan penggiat Komunitas Bipolar Care Indonesia, sebuah gerakan support group yang dimotori oleh orang yang mempunyai kelainan mood antara ekstrem sedih (depresi) maupun ekstrem gembira (manic), maupun mereka yang peduli (para caregiver) untuk membantu proses adaptasi dan terapi para pasien bipolar disorder.

Kelainan psikologis yang dikenal sebagai manic depression ini sempat menjadi konsumsi gosip yang secara serampangan dikaitkan dengan tingkah polah mantan artis cilik Marshanda serta kematian bintang film dan komedian kawakan Robin Williams.

Untunglah, si pembicara segera meluruskan dengan penjelasan bahwa penderita bipolar disorder berbeda sama sekali dengan kebanyakan anggapan awam umumnya.

1. Gangguan bipolar tidak sama dengan schizofrenia, atau dalam bahasa awam (maaf) gila. Penderita gangguan bipolar masih terhubung dengan dunia dan orang lain, sedangkan schizofrenia, si penderita terhubung dengan dunia pikirannya sendiri yang tidak terhubung dengan dunia nyata.

2. Gangguan bipolar bukanlah kepribadian ganda. Penderita bipolar disorder mengalami kesulitan untuk mengendalikan perubahan mood yang tiba-tiba dan ekstrem. Si penderita sadar bahwa ia sedang mengalami depresi atau mania, tapi tidak mampu mengontrolnya. Sedangkan pada kepribadian ganda, si penderita tidak ingat sama sekali apa yang ia lakukan ketika menjadi pribadi lainnya.

3. Kelainan bipolar membuat si penderita tidak bisa hidup normal. Seperti sakit alergi, hipertensi dan sakit sakit yang tidak ada obatnya, yang dibutuhkan adalah kesadaran dari penderita untuk mengelola mood sehingga dapat mengatasinya ketika serangan datang, entah dengan obat-obatan, terapi, interaksi dengan komunitas yang mendukung (support group), penyaluran melalui aktivitas positif seperti hobby, meditasi, konsultasi dan lain sebagainya.

Memang, gangguan bipolar bisa menjadi sangat serius jika tidak tertangani dengan baik karena penderita akan mudah mengalami perubahan mood. Sewaktu-waktu ia bisa begitu aktif, senang, dan bersemangat atau yang dikenal dengan istilah mania. Sebaliknya, pada waktu yang lain ia bisa merasa sangat sedih, tidak bersemangat, sulit tidur, tidak nafsu makan, merasa tidak bahagia dan disisihkan. Keadaan seperti disebut dengan depresi.

Gangguan ini tidaklah sama dengan perubahan mood yang mungkin terkadang dirasakan oleh orang kebanyakan. Jika orang normal dapat mengembalikan perasaan dengan sendirinya, penderita bipolar disorder mengalami perubahan mood yang sangat kuat dan berlangsung lama. Tidak jarang, penderita bipolar ini bisa menyebabkan ketidakharmonisan dalam hubungan dengan keluarga, teman-teman, dan orang sekitar. Mereka juga sulit untuk bekerja atau melanjutkan sekolah. Penderita bipolar juga bisa membahayakan diri mereka sendiri seperti menyakiti diri sendiri dan bahkan bunuh diri.

Cerminan Masyarakat Yang Sakit?

Realitas gangguan bipolar dan kelainan psikologis lainnya yang sering distigmatisasi sebagai penyakit gila, aneh sehingga makin membuat si penderita tidak mendapatkan penanganan yang tepat untuk dapat hidup normal di tengah masyarakat mengingatkan pada tulisan klasik psikolog Erich Fromm, the Sane Society, Masyarakat Yang Waras. Kurang lebih Fromm membuka pertanyaan apakah kita, manusia zaman ini waras atau tak waras? Are we sane? Pertanyaan kedua: bisakah masyarakat kontemporer tempat kita hidup ini sakit?

Fromm menggugat dengan realitas bahwa ketika manusia memasuki era yang makin 'kaya', 'berkelimpahan', 'bebas', 'bahagia', manusia justru merasa terancam eksistensinya. Bahkan saking merasa terancam, manusia berusaha melarikan diri dari situasi baru yang tidak ia mengerti namun mengepungnya. Manusia gagal paham. Yang lebih mengerikan ia gagal paham termasuk pada dirinya sendiri. Secara teatrikal, Fromm menyitir: masalah abad ke-19 adalah 'matinya Tuhan', tetapi di abad ke-20 (dan 21?)adalah 'matinya ke-manusia-an.'

"In the process of an ever-increasing division of labor, ever increasing mechanization of work, and an ever-increasing size of social agglomerations, man himself became a part of the machine, rather than its master. He experienced himself as a commodity, as an investment..." halaman 347.

"Not having a sense of self except the one which conformity with the majority can give, he is insecure, anxious, depending on approval. He is alienated from himself, worships the product of his own hands, the leaders of his own making, as if they were
above him, rather than made by him." halaman 348


Jalan Keluar?
Untunglah, Fromm juga menawarkan jalan keluar agar manusia zaman ini dapat hidup di lingkungan yang waras. Ia menamakannya komunitarisme yang manusiawi, 'humanistic communitarinism,' yang berciri 'berbagi' terutama dalam karya dan pengalaman.

"Man can protect himself from the consequences of his own madness only by creating a sane society which conforms with the needs of man, needs which are rooted in the very conditions of his existence. A society in which man relates to man lovingly, in which he is rooted in bonds of brotherliness and solidarity, rather than in the ties of
blood and soil...."

Karena itulah, support group yang digagas oleh Komunitas Bipolar Care Indonesia persis mendudukkan si penderita kembali pada kemanusiaannya, dengan tujuan membuatnya bisa mengelola dan menyesuaikan diri dengan situasinya, dan kembali menjadi tuan atas jiwanya. Komunitas ini bisa dihubungi lewat Twitter: @Bipolarcareind atau No whatsapp Family support grup di 0813 16022911.






Post a Comment

0 Comments