Mencari Terobosan di Industri Distribusi

Stasiun televisi Jepang NHK baru-baru ini mewawancarai generasi ketiga Group Blue Bird Noni Purnomo mengenai strategi bisnis raksasa transportasi Indonesia ini ke depan. Noni sangat fasih menceritakan ruang pertumbuhan yang masih terbuka lebar karena pertumbuhan ekonomi yang dipacu dengan konsumsi domestik tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Blue Bird yang mulanya 'hanya main' di taksi kini merambah ke berbagai lini bisnis lain, yaitu logistik dan distribusi. Baru-baru ini, Blue Bird juga menggandeng 7Eleven untuk melayani calon penumpang, terutama penumpang wanita, untuk dapat memesan taksi ketika misalnya pulang malam hari. Kini, taksi bisa dipesan melalui gerai Sevel, dan tidak perlu lagi melambai-lambai di pinggir jalan.

Ketika ditanya seberapa yakin sang CEO Blue Bird Group akan masa depan perusahaannya, kurang lebih dia menjawab, "Konsumsi akan selalu membutuhkan distribusi. Tidak akan ada konsumsi jika tidak ada distribusi, bukan?"

Pentingnya distribusi tak tergantikan di Indonesia di mana infrastruktur transportasi masih menjadi masalah utama, entah karena jalan darat yang terbatas dan sering terganggu, maupun lalu lintas laut yang tidak lancar karena infrastruktur kapal angkut dan pelabuhan yang tak layak, atau jalur udara yang tergantung dengan banyak faktor eksternal seperti harga avtur dan sparepart pesawat. Setidaknya membutuhkan waktu 10 tahun untuk mengurai persoalan transportasi di negeri ini.

Urusan distribusi ini tentu jasa antar kirim seperti PT Pos Indonesia, Tiki, JNE, DHL tentu sedang mencoba mengeksplorasi berbagai kemungkinan dan terobosan bisnis untuk tumbuh dengan armada yang ada, melalui layanan-layanan yang solutif bagi konsumen.

Salah satu yang menurut saya berpotensi menjadi 'game changer' adalah layanan paket yang dikawinkan dengan kebutuhan akan oleh-oleh seperti yang tengah dikembangkan oleh JNE melalui jaringan online bernama: pesonanusantara.co.id. Mulai dari oleh oleh khas sambel bu Rudi di Surabaya hingga pempek Candy Palembang dapat diantar sampai ke rumah.

Terobosan itu mengingatkan saya pada ulah teman dan kenalan yang selalu titip oleh-oleh atau ribut berburu oleh-oleh ketika ada di suatu kota tertentu. Terkadang absurd sekali karena mereka menghabiskan waktu untuk antri atau memakai jasa joki untuk membeli oleh-oleh (terutama snack atau makanan khas), lalu mengepak dan mengirimkannya lewat paket karena tidak mau kelebihan bagasi. Atau ada yang rela mengangkat kardus berat-berat karena tidak mau keluar ongkos kirim lagi.

Layanan yang mensinergikan oleh-oleh khas daerah dengan jalur distribusi sehingga orang tidak perlu pergi ke suatu tempat dan bersusah payah menjangkau toko oleh-oleh (belum lagi kalau tokonya tutup), tinggal bertransaksi secara daring dan oleh-oleh ada di depan pintu tanpa ribet dan tak terlalu mahal.








Sent from my iPad

Post a Comment

0 Comments