Apa itu Jejaring Semesta, the Internet of Things


Hampir dua dekade lalu, teknologi internet diciptakan oleh manusia untuk menghubungkan komputer di seluruh dunia dalam jejaring raksasa world wide web. Tujuannya agar data dapat diakses dari berbagai tempat mengatasi batasan ruang, tempat dan waktu. Mulai dari komputer perpustakaan universitas hingga komputer korporasi hingga akhirnya personal computer, komputer terhubung satu sama lain. Itulah the Internet of Computers, jejaring komputer. 

Lalu, orang mulai bertanya: Untuk apa teknologi dikembangkan kalau bukan untuk kepentingan manusia dan memenuhi kebutuhan manusia? Tak heran, era selanjutnya menempatkan manusia di pusat tata internet. Manusia menjadi tuan atas jagad internet. Internet menghubungkan orang satu dengan orang lain. Perusahaan teknologi menciptakan piranti-piranti baru, komputer yang kian mini namun memiliki kapasitas dan kecerdasan yang semakin cepat dan mumpuni. Ponsel pintar kita telah berevolusi dari sekedar telepon untuk berkirim pesan dan suara, menjadi komputer untuk memproduksi gambar, mengirim gambar, menjelajah internet, berkomunikasi melalui media sosial dan sebagainya. Diciptakan pula teknologi berupa program, aplikasi, software untuk mendukung konektivitas manusia itu. Begitulah era yang dikenal sebagai the Internet of People, jejaring manusia.  

Namun, era berganti semakin cepat. Beberapa tahun terakhir semua mulai berubah. Teknologi mencari tuan baru. Kini, perhatian tertuju pada piranti teknologi yang sudah menjadi ekosistem baru manusia: mesin cuci, televisi, lampu, mobil, pendingin udara, alarm, listrik, keran air, alat kesehatan, dan masih banyak lagi. 

Tuan baru ini jumlahnya sangat banyak dan bisa direproduksi menjadi tak terbatas. Piranti yang sebelumnya diatur dengan sistem operasi tersendiri, kali ini ditambahkan padanya oleh teknologi kecerdasan buatan untuk bisa memiliki indera: bisa melihat, mendengar, merasakan dan membagikan apa yang dia rasakan kepada piranti lain. Selanjutnya, dengan kecerdasan yang sama, piranti dihubungkan dengan piranti lain melalui internet menjadi jejaring sistem yang saling berkolaborasi dan berkomunikasi. Sistem yang saling bercakap cakap, saling belajar membaca pola di data serta menganalisis dan memprosesnya dari data sensor menjadi informasi yang relevan dan lebih lanjut menghasilkan pengetahuan untuk menjalankan operasi yang cerdas dan efisien. Wah! Itulah the Internet of Things (IoT), jejaring semesta. 

Siapa yang peduli?
Mungkin kita tidak terlalu peduli. Indonesia masih jauh dari bayangan itu. Internet saja banyak blind spotnya, kecepatan rata-rata di kawasan kota pun tidak merata, apalagi di kawasan pedesaan atau daerah terpencil. Belum lagi layanan koneksi internet dengan bandwidth terbesarpun sering tak bisa diandalkan. Belum lagi masalah teknis lain untuk membiasakan orang dengan tata teknologi baru. 

Namun, teknologi rupanya tidak menunggu kita berkemas. Raksasa-raksasa teknologi telah bergegas dan berebut menjejakkan kaki terlebih dulu di lintasan internet yang baru ini dalam beberapa tahun terakhir. Kampanye marketing dan aksi-aksi korporasi mencerminkan fokus baru pengembangan teknologi mereka untuk dekade ke depan. 

General Electric memperkenalkan bahasa industri baru yang mengubah dunia dalam "The Boy who Beeps"; IBM mempunyai program yang dituangkan dalam kampanye A Smarter Planet, Google mengakuisisi produsen automasi rumahan Nest dengan valuasi $3,2 milyar dolar Amerika dan Apple dengan jam pintarnya serta piranti rumahan cerdas lainnya. 

Kesempatan-kesempatan Baru 
Sejauh mata memandang, horison baru teknologi terbentang di depan. Para penggagas teknologi berharap lebih banyak inovasi yang membuat orang dan semesta berkonspirasi untuk membuat kesehatan yang lebih baik, lingkungan dan cuaca yang lebih tepat terprediksi, distribusi informasi yang lebih cepat dan transparan, kerja yang lebih efektif, kenyamanan maksimum, sekaligus keamanan serta privacy yang optimal.  





Post a Comment

0 Comments