Gojek memang fenomenal. Hanya selang kurang dari sehari sejak beredarnya larangan Menteri Perhubungan terhadap layanan ojek dan taksi daring, berbagai kalangan masyarakat dan komunitas beramai-ramai menolak surat edaran Menteri Perhubungan itu melalui media sosial, entah lewat tanda pagar #savegojek maupun petisi online di Change.org.

Saking populernya layanan ojek dan taksi daring itu, petisi online berhasil menggalang dukungan hampir mencapai 13.000 orang hanya dalam waktu 10 jam. Bahkan, Presiden Joko Widodo pun merespon melalui Twitter resminya dan memberikan dukungan terhadap operasi Gojek serta menjanjikan akan segera memanggil Menhub Ignasius Jonan terkait pelarangan tersebut.

Tak perlu waktu lama, pihak Menhub pun melunak dan kemudian dilaporkan mengoreksi kebijakan dengan memperbolehkan ojek daring beroperasi.

Di satu pihak, kebijakan ala poco poco karena dengan gampang menerbitkan aturan lalu dengan gampang pula menarik kembali aturan,  menyiratkan  kurangnya pertimbangan dalam pembuatan kebijakan. Di lain pihak, itu juga memperlihatkan gelagat kegagapan serta kegamangan terhadap perkembangan teknologi yang sedemikian tunggang langgang.

Seandainya pihak Kementerian Perhubungan mau membaca baik Undang-Undang Lalu Lintas No. 22 tahun 2009 yang menjadi dasar larangan operasi Gojek, undang-undang memang tidak mengatur bahwa kendaraan roda dua atau motor bisa dipakai sebagai alat angkutan penumpang. Namun, undang-undang memang mengatur pemakaian kendaraan roda empat sebagai moda angkut penumpang untuk mikrolet, taksi, travel.

Karena itu, adalah keliru dan terburu-buru jika pemerintah memakai undang-undang itu sebagai dasar untuk melarang operasi ojek berbasis aplikasi.

Memang, perkembangan teknologi selular yang sedemikian cepat dan penerapannya yang masif dan merevolusi bisnis transportasi mengagetkan banyak pihak. Ada alternatif pemecah kebuntuan moda transportasi di tengah masih buruknya layanan transportasi publik. Siapa sangka bisnis ojek yang minim modal, minim investasi, dan minim urusan administratif, legal, prosedural bisa meroket dalam waktu singkat. Ada elemen kejut yang luput dari perhatian dan hitungan raksasa-raksasa bisnis transportasi dan logistik tradisional.

Fenomena ini sangat dekat dengan tulisan Malcolm Gladwell berjudul David and Goliath: Underdogs, Misfits and the Art of Battling Giants yang menyuguhkan pelajaran penting dari kasus Gojek ini.

Dalam pendahuluan bukunya, Gladwell merekonstruksi medan perang di lembah Elah saat pasukan Israel dan Filistin terjebak kebuntuan untuk menentukan siapa sang pemenang perang. Filistin pun menyusun strategi dan akhirnya mengirim Goliat sebagai sang penentu kemenangan. Goliat, yang berpostur nyaris sebesar raksasa dilengkapi dengan baju zirah, tameng dan tombak,  maju ke gelanggang menantang siapapun dari pasukan Israel untuk berduel satu lawan satu. Taruhannya kemenangan perang bagi pihak yang menang.

Seolah-olah di atas semua perhitungan yang mungkin, taruhan kemenangan ada di pihak tentara Filistin. Pun ketika seorang anak gembala bernama Daud maju ke depan dan menawarkan dirinya sebagai sukarelawan menantang Goliat, Raja Israel, Saul, pun menganggap itu seperti lelucon saja. Saul seperti halnya Goliat, terjebak dalam kerangka pikirnya sendiri bahwa duel yang akan terjadi nantinya adalah duel berhadap-hadapan. Dan, kalau itu terjadi, Daud jelas bukan tandingan Goliat yang unggul dari berbagai segi tempur,

"Memangnya kamu kira aku ini anjing, sehingga kamu mendatangiku dengan membawa tongkat?” kata Goliat kepada Daud. Persis kalimat itu memperlihatkan kesalahan fatal dan titik lemah Goliat, meremehkan lawannya karena dibutakan dengan kekuatan dan keunggulan yang dimiliki.

Di permainan 'suit dengan jari', ada hukum tak tertulis tentang pihak yang diwakili dengan simbol kertas, gunting dan batu untuk menentukan siapa yang menang atas pihak lain. Kertas kalah sama gunting, gunting patah jika ketemu batu, batu kalah sama kertas. Demikian pula, di medan perang, ada hukum tak tertulis bahwa  pasukan infanteri yang dilengkapi  tombak panjang dan tameng akan menang atas pasukan kavaleri yang menunggang kuda dan bersenjata pedang. Namun, pasukan kavaleri adalah momok bagi pasukan bersejata pelontar seperti panah atau ketapel karena kuda bergerak terlalu cepat sehingga menyulitkan mereka membidik sasaran. Sedangkan, pasukan infanteri dengan beban berat senjata yang ditenteng menjadi sasaran empuk lontaran batu atau panah.

Yang luput dari perhitungan Goliat adalah melindungi titik lemah yang dimilikinya dan menakar ketrampilan  Daud sebagai anggota pasukan dengan senjata ketapel yang jitu dalam urusan membidik sasaran.

Jika Goliat menyadari hukum tak tertulis itu, maka ia mungkin akan berpikir dua kali untuk menghadapi Daud karena probabilitas menjadi terbalik untuk kemenangan Daud.

Kembali ke Gojek, kita melihat kejelian untuk melihat peluang untuk membalikkan keadaan dari situasi yang tidak menguntungkan menjadi kemungkinan untung yang lebih pasti, melalui strategi yang sengaja dipilih untuk menang. Kalau pendiri Gojek memaksa diri menantang para Goliat perusahaan tradisional penguasa taksi, mikrolet, bajaj dan bis dengan layanan lebih baik dan murah sekalipun pun, dia akan pasti kalah. Untungnya, dia bukanlah Goliat.