Waktu adalah uang, demikian adagium yang banal bagi para pebisnis. Dengan satuan waktu, pekerjaan dikuantifikasi nilainya dan dikonversi menjadi satuan rupiah atau mata uang lain.

Nah, jika di persamaan ini, waktu sama dengan uang, maka pekerjaan seharusnya bisa menjadi variabel yang bisa ditukar, entah jenisnya ataupun cara dikerjakannya.

Sebuah startup lokal Sribulancer.com berusaha mendefinisi ulang pekerjaan sebagai variable yang bisa ditukar. Tak peduli bagaimana dan dengan cara apa dikerjakan, orang bisa memasang pekerjaan tertentu atau mencari hasil pekerjaan tertentu, dalam jangka waktu tertentu serta dikuantifikasi dengan jumlah bayaran tertentu.

Startup ini membaca tren pekerja profesional lepas yang tidak terikat keharusan untuk 'ngantor,' sebagaimana hasil survei Gallup di tahun 2013 yang menyatakan bahwa 87 persen orang merasa tak puas dan tak termotivasi untuk pergi ke kantor, entah karena seribu satu alasan. Hanya tersisa 13 persen saja di pekerja yang disurvei yang sungguh ingin pergi 'ngantor.' Barang kali para pemilik dan mereka yang punya 'cem cem an' di kantor.

Survei lain mengonfirmasi tren tersebut dengan temuan bahwa 76 persen dari 2.600 pekerja yang disurvei merasa bosan bukan karena pekerjaan mereka sendiri. Namun, jika boleh memilih mereka merasa mengerjakan pekerjaan di tempat lain selain kantor merupakan pilihan yang lebih baik.

Survei yang dirilis baru-baru ini oleh Flexjobs itu juga berkesimpulan bahwa orang merasa memiliki relasi personal, kesehatan dan kesejahteraan yang baik ketika mereka diberi opsi untuk bekerja dalam jadual yang fleksibel dan kesempatan untuk menyelesaikan tugas secara jarak jauh atau remote.

Laporan lain menyoroti perubahan tren yang didorong oleh perkembangan teknologi informasi digital, komputer dan internet, dan mobile. Jika di tahun 1990 an, dilaporkan jumlah para pekerja lepas atau freelancer di Amerika Serikat hanyalah sekitar 5 persen. Dalam kurun 20 tahun terakhir, jumlah itu sudah menjadi 15 persen di penghujung milenium baru dan sekarang ini 30 persen orang lebih suka menyebut diri pekerja lepas.

Beberapa perusahaan bahkan mengizinkan 50 persen karyawannya bekerja dari rumah.

Sekarang ini, orang yang bekerja dari rumah, para pekerja lepas, mungkin bisa dimasukkan menjadi satu kategori komunitas yang dinamakan para nomaden digital. Komunitas ini meliputi orang dari berbagai lapisan, mulai dari pengusaha hingga pekerja lepas yang menggunakan web, aplikasi untuk menyelesaikan pekerjaan sekaligus selalu terhubung dengan bos, tim ataupun klien.

Di tempat saya bekerja, mungkin lebih dari 50 persen dari tim tidak lagi menerobos kemacetan Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Ditilik dari produktivitas, mungkin kinerjanya justru lebih efektif dibanding 10 tahun yang lalu ketika semua diwajibkan ke kantor. Ya, meskipun sering kali ada penolakan di sana sini dari, saya lebih melihat itu sebagai transisi yang tak  mulus untuk memeluk budaya kerja baru yang berjalan di piranti dan platform digital yang lebih bisa diandalkan untuk komunikasi antar tim. Ke depan, sepertinya kantor semakin berkurang relevansinya.

Saya rasa ada benarnya candaan seorang kolega yang mengatakan sekarang ini alasan ke kantor bukan untuk bekerja atau absen, melainkan untuk "menjalin tali silaturahmi'. 

Sebuah tulisan di TechinAsia, mengutip infografis dari BargainFox dan SavvyBeaver yang mengupas gaya hidup para nomaden digital masa kini. Andakah salah satunya?