PageCloud, Kiamat Bagi Wordpress dan Blogger? Akankah Jadi App Web Publishing Terbaik Dunia?



Ada video iklan sponsor dari PageCloud terlihat di laman Facebook saya. PageCloud membanggakan diri sebagai aplikasi web publishing terbaik di dunia yang akan mengubah jagat website as we know it. 

Intinya, PageCloud mendasarkan pada deep technology yang memungkin orang tanpa latarbelakang web design, pemahaman bahasa HTML (hypertext markup language), cascading stylesheet (CSS), Javascript, content management system (CMS), langsung membangun dan mengubah website di browser mereka. What You See is What You Get (WTSWTG) tanpa pengetahuan kode secuilpun!

Bahkan perusahaan baru yang berbasis di Ottawa, Canada itu pun tak main main karena memungkinkan orang 'copy' 'paste' di Photoshop ke browser. Dan, berbagai fitur lain yang masih belum mereka publikasikan. 

Dengan semua itu, CEO PageCloud, Craig Fitzpatrick, memproklamasikan kepada dunia bahwa perubahan terhadap web tengah terjadi, dan mengundang semua orang tanpa kecuali, menikmati kebebasan yang sebelumnya dinikmati oleh 1 persen orang dari pengguna internet (saya tersanjung masuk di kalangan satu persen ini ;)) untuk mengubah-ubah tampilan website mereka. 

Artinya apa? Artinya, semua orang, termasuk orang biasa, orang marketing, bisa menerjemahkan langsung ide mereka ke bentuk website tanpa tergantung para 'tech people.' Dimulai dengan tim kecil 7 orang, PageCloud meraup dana sebesar 2.2 juta dolar Amerika pada bulan Maret dari para investor termasuk Tobias Lutke (CEO Shopify) dan Sarah Imbah (bekas chief of staff LinkedIn).  

Terus terang saya keder. Lima tahun yang sia-sia saya belajar blogging dan koding sederhana, supaya setidaknya bisa membongkar pasang tampilan web, demikian pikir saya spontan. Ini mungkin kiamat bagi penyedia layanan desain seperti Wordpress, Blogger, beserta CMS, Joomla, Drupal, atau apapun. 

Setelah mengingat-ingat sebentar, tiba-tiba saya teringat Shopify, Wix, dan Weebly yang telah hadir dengan konsep 'drag and drop' yang sama. 

Ah ya, ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Pembaruan PageCloud dibanding pendahulu-pendahulunya adalah memotong jalur CMS. Si pendiri PageCloud mengibaratkan kemampuan PageCloud setara dengan PowerPoint yang menjanjikan pengalaman WTSWTG serupa. 

Tanpa buang waktu, saya langsung ke situs PageCloud.com dan klik tombol SignUp untuk prelaunch. (baru tahu kalau masih preorder alias inden). Ada biaya langganan pre-launch sebesar 99 dolar per tahun, atau berarti 8,25 dolar per bulan (atau Rp120 ribuan sebulan) dan katanya akan hemat 65 persen karena harga akan naik menjadi 25 dolar per bulan pada saat peluncuran. Ada skema referral, gratis 1 tahun biaya langganan asal mereferensi 3 orang. 

Wah wah...Mahal ya!

Menurut hemat saya, masih belum terbukti (kan masih belum diluncurkan) apakah layanan PageCloud akan bisa menyamai plugins WordPress atau kode Javascripts/CSS yang sudah ada. 

Kedua, seperti yang terjadi dengan Shopify, Wix dan Weebly. Bagi saya, mereka kurang berhasil  pertama dan terutama karena mereka sebenarnya hanya ingin menjual web hosting. Template yang responsive dan memiliki fitur gampang 'drag and drop', 'plug and play', tanpa fitur backup. Jangan heran kemudian jika muncul pertanyaan besar: Bagaimana nasib file file yang diunggah ke server mereka, jika misalnya saya tak mampu bayar biaya langganan lagi? Hilang begitu saja kah? 

Ketiga, bisakah tampilan ditransfer ke platform yang non-PageCloud, misalnya saya kurang puas dan ingin minta bantuan dari ahlinya misalnya. 

Keempat, dari sisi harga. Dengan harga segitu, sepertinya orang akan mendapatkan lebih banyak fitur yang jauh lebih kaya. (Anggap saja ini pembelaan dari para blogger dan penyokong web tradisional).' 

Kelima, yang menurut saya paling fundamental adalah masalah legacy. Kode adalah persoalan bagaimana sesuatu yang diciptakan bisa diteruskan kepada orang lain. Suka tidak suka setiap detil di web, tampilan front end, CMS merupakan kode yang kompleks yang bukan melulu urusan tampilan lahir. Kode seperti pengetahuan genetika yang menentukan seluruh struktur dari dalam hingga luar. 

Terakhir, bicara tentang orisinalitas. Apa hebatnya, kalau orang hanya ingin menyalin desain yang dibuat orang lain, comot sana comot sini, tempel sana tempel sini. Itu bunuh diri namanya. 

Maaf ya, saya tidak jadi terkesan!


Post a Comment

0 Comments