Facebook batasi akses ke harta karun data pemakainya

Pakar psikolog sosial Benjamin Crosier beberapa bulan lalu mebangun aplikasi untuk melihat kaitan antara aktivitas sosial media dan berbagai penyakit seperti ketergantungan obat-obatan. 

Sayangnya, ia harus kehilangan semuanya setelah Facebook menerapkan pembatasan terhadap pihak luar Facebook untuk memperoleh informasi mengenai 1,5 milyar pemakai Facebook di seluruh dunia. Maka, Dr. Crosier yang juga fellow paska doktoral di Darmouth College mengajukan petisi kepada Facebook untuk mendapatkan kembali beberapa data yang pernah ia akses. 

Pengalaman Dr. Crosier memperlihatkan betapa pembatasan Facebook atas pemakaian data pengguna yang diumumkan tahun lalu dan mulai diterapkan bulan Mei lalu, telah berdampak ke dunia akademis, bisnis bahkan politik. 

Belasan start-up yang mengandalkan data Facebook terpaksa gulung tikar, dibeli atau harus meredesain bisnis mereka. Para konsultan politik berlomba-lomba mencari cara baru untuk menggarap koneksi sosial menjelang pemilu presiden Amerika tahun depan. 

"Facebook telah memberi, Facebook pulalah yang mengambilnya," kata Nick Soman yang telah mengumpulkan data lokasi dari daftar teman-teman pengguna Facebook untuk memperkuat aplikasi chat anonimnya yang bernama Reveal. Ia dilaporkan menjual aplikasi tersebut ke layanan

musik Rhapsody International Inc. Soman mengatakan bahwa dia kagum terhadap Facebook, tetapi dia dipaksa untuk belajar risikonya terlampau mengandalkan data pihak ketiga sebagai komponen inti dalam aplikasi yang dibangunnya.

Beberapa aturan baru mencerminkan perubahan sikap Facebook terhadap kebebasan pihak ketiga dalam memakai data Facebook, yang sering dianggap sebagai salah satu sumber informasi mengenai relasi manusia yang paling kaya di dunia. Di tahun 2007, Facebook menggembar gemborkan melalui pendiri dan CEOnya Mark Zuckerberg agar para pihak ketiga dapat mengakses 'social graph' atau aksara sosial, daftar teman, hobi, jumlah 'Like" yang menghubungkan satu pengguna Facebook dengan pengguna yang lain. 

Facebook telah mengatakan bahwa ia telah berputar haluan setelah menerima keluhan mengenai data yang dibagikan kepada pihak luar tanpa sepengetahuan dan seizin pengguna Facebook. 

Menurut juru bicara Facebook, aturan baru yang diterapkan tidak bermaksud mempersulit para developer dalam membangun pengalaman sosial mereka, melainkan "sekedar memaksa mereka [para developer] untuk lebih protektif dalam menjaga privacy."

Facebook bukanlah yang pertama dalam pembatasan akses terhadap data. LinkedIn dan Twitter telah jauh-jauh hari melakukannya. Namun, perubahan Facebook lah yang paling menimbulkan kontroversi. 

Banyak developer yang menggunakan 'social graph' mengandalkan sentilan yang lembut namun kuat, mengirimkan pengingat kepada pengguna untuk memainkan suatu permainan, memberi suara dalam suatu pemilihan, atau mengkonfirmasi apakah dua orang yang akan berkawan memiliki kawan yang sama (mutual friends). 

Tanpa jendela untuk mengamati jejaring pertemanan, aplikasi dan banyak bisnis lain kehilangan kanal kunci untuk pertumbuhan mereka,  sedangkan pengguna mungkin menemukan jejaring mereka tak lagi berguna untuk memperoleh pekerjaan baru yang dicari atau mencari jodoh! Beberapa pakar privacy juga mengingatkan bahwa perubahan sikap Facebook ini dapat memicu taktik penambangan data (data mining) yang justru dibenci oleh para pengguna karena mengorek data pribadi mereka. 

Bagi beberapa kalangan, pembatasan data mencerminkan pertumbuhan dan kedigdayaan Facebook sebagai jejaring sosial terbesar di duna. Di tahun 2007, saat Zuckerberg membuka data perusahaan, tak kurang 58 juta pengguna terdaftar dengan mendatangkan pendapatan sebesar $153 juta. Tahun ini, Facebook menargetkan membukukan pendapatan $17 milyar; berkat 1 milyar orang memakai Facebook setiap harinya, menurut data bulan lalu. 

Para korban Facebook
Aplikasi kencan Tinder adalah salah satu pemakai data Facebook yang terdampak gara-gara aturan baru tersebut. Sejak pengumuman rencana pembatasan akses data pada tahun lalu, para punggawa Tinder buru-buru mendekati Facebook untuk minta keringanan. Mereka beralasan bahwa pembatasan untuk mengintip data mengenai 'mutual friend' bisa mematikan bisnis mereka. Setelah diskusi alot selama berbulan bulan, keduanya akhirnya mencapai kompromi: Tinder boleh memakai data foto dan nama mutual friend, tak kurang, tak lebih. 

Malang bagi aplikasi College Connect yang menyediakan layanan bantuan terhadap calon mahasiswa untuk menemukan teman dari sekolah atau jenis pekerjaan yang hendak mereka kejar di masa depan. Aplikasi tidak bisa berfungsi tanpa akses yang luas terhadap data Facebook, kata co-creator College Connect Nicole Ellison, seorang profesor dari universitas Michigan. 

Aplikasi rekrutmen Jobs with Friends juga tumbang. Pendiri aplikasi ini Chris Russel membangun aplikasi untuk menghubungkan pengguna Facebook dengan teman dan teman dari teman, yang memiliki ketertarikan profesional yang serupa. Aplikasi ini hanya hidup setahun sampai akhirnya Facebook membunyikan lonceng kematian baginya. 

Konsultan Politik Kena Batunya
Pembatasan juga akan membuat para konsultan politik pusing tujuh keliling. Cara lama sebagaimana cara yang dipakai untuk menggolkan keterpilihan kembali presiden Amerika Barack Obama di tahun 2012 tidak akan bisa dipakai lagi. Dulu aplikasi dibuat untuk mengidentifikasi pendukung potensial Obama dari jaringan teman di Facebook. Kampanye difokuskan pada data yang diperoleh mengenai teman dekat pengguna yang memungkinkan hasil kampanye terhadap target pemberi suara 5 kali lebih efektif untuk diklik dibanding materi kampanye berasal dari sembarang orang di Facebook. 

Munculnya jejaring sosial baru
Beberapa perusahaan tengah membangun jejaring sosial mereka dari nol, sperti YesGraph yang memkai teknik data mining yang dikenal sebagai analitik prediktif untuk memungkinkan aplikasi menemukan pengguna baru dengan menganalisis daftar email dan kontak telpon dari pengguna aplikasi. Jika seseorang menerima undangan dari akun email korporat, start up tersebut berasumsi bahwa hubungannya ada di lingkup bisnis. Jika dua orang mempunyai nama belakang sama, barangkali keduanya ada kaitan saudara. Tentu, dalam konteks Indonesia, pendekatan nama ini bakalan problematis. Selain banyak nama yang umum dipakai berbagai kalangan alias 'pasaran', nama belakang seperti petunjuk 'marga' atau 'family' belum tentu menunjuk pada kaitan keluarga dekat. 

Pada prakteknya, pembatasan akses membuat pekerjaan developer makin tak mudah. Setidaknya, beberapa developer sudah tertantang untuk memikirkan ulang inovasi baru yang mungkin mengubah peta dominasi Facebook. Bisa jadi, dari ribuan upaya ada, satu atau dua yang lahir menjadi pewaris tahta jejaring sosial di dekade depan. Barangkali. 

Disarikan dan ditulis ulang dari The Wall Street Journal 23 September 2015

Post a Comment

0 Comments