Hari-hari ini Kota Bekasi, sedang menjadi bahan perbincangan di komunitas media sosial tanah air. Para netizen, khususnya para pengguna Twitter, Facebook, dan Path ramai-ramai mem-bully kota yang sebenarnya sedikit lebih harum namanya dengan kehadiran beberapa kota satelit seperti Sumarecon dan Harapan Indah.

Isi “bully”-nya, sebagian besar soal jarak kota tersebut yang, menurut para “pembully”, jauh sekali dari ibu kota Jakarta. Urusan mem-”bully”, netizen di tanah air bisa dibilang sudah teruji kreatifitasnya. “Dibully terus, gue mau menghadap presiden di istana negara, Gue harus berangkat sekarang mudah-mudahan lusa nyampe,” bunyi tulisan dalam meme yang ditujukan untuk mengejek Bekasi.

Selain soal lokasinya yang jauh, Bekasi juga di-”bully” soal infrastrukturnya yang masih kurang memadai di sejumlah tempat.

“Kalo lu lagi jalan tiba-tiba jalanan rusak berarti lu udah masuk BEKASI,” bunyi tulisan yang muncul dalam meme lainnya.

Pembelaan Paling Serius
Tanpa sengaja, saya menemukan pembelaan dari sebuah portal: gobekasi.com, yang mengklaim diri sebagai Portal Bekasi yang 'Paling Bekasi' (saya tidak bisa menahan diri untuk meletakkan ekslamasi: wuihh dan cieee).

Berikut adalah telaah historis bahwa peristiwa pem-bully-an terhadap Bekasi, bukanlah yang pertama. Ahli sejarah asal Bekasi, Ali Anwar, mencatat bully kepada Bekasi sudah terjadi sejak tahun 1869.

Ini catatan Ali Anwar dan akibatnya bagi mereka yang berani mem-bully Bekasi.

Pada pertengahan abad ke-19 pemerintah Hindia-Belanda dan para tuan tanah mem-bully rakyat Bekasi. Hasilnya, asisten residen meester cornelis C.E Kuyper tewas dibunuh oleh 260 pemeberontak.

Pada 1942-1945 Jepang mem-bully rakyat Bekasi. Hasilnya, 90 tentara Jepang tewas dibunuh di Stasiun Bekasi-Kali Bekasi pada 19 Oktober 1945.

Pada akhir 1945 tentara sekutu Inggris semena-mena mem-bully. Hasilnya, 26 tentara sekutu yang mendarat darurat di Cakung dibunuh pejuang RI di Bekasi pada awal Desember 1945.

”Kemudian pada 1984-2001, DKI Jakarta mem-bully Bekasi dengan cara buang sampah beraroma tak sedap ke TPA Bantargebang. Hasilnya, Bekasi menutup TPA Bantargebang pada 2001. Gubernur DKI, Sutiyoso, yang angkuh itu pun datang ke Bekasi mengiba-iba supaya TPA dibuka,” klaim Ali Anwar, meskipun seingat saya sebagai wartawan Balai Kota DKI pada masa itu, Sutiyoso tidak datang 'mengiba-iba' ke Bekasi.

Portal melanjutkan dengan kutipan berikut,"Bully terhadap kota di media sosial juga pernah menimpa Bandung dan Jogja. Kasus di Bandung, Walikota Ridwan Kamil langsung mempolisikan si pem-bully. Sementara di Jogja, bully dilakukan seorang wanita yang sedang mengenyam pendidikan di UGM. Hasilnya, wanita itu diusir dari Kota Gudeg setelah forum bersama rakyat Jogja melaporkan ke polisi."

'Sejarah' memang belum mencatat apa yang terjadi terhadap pem-bully Bekasi. Kita tunggu saja! (Lagi-lagi, saya tidak tahan untuk tidak meletakkan ekslamasi: Ihhh Ngeriiiyyy!)