Ekonom dan peraih penghargaan Nobel di bidang ilmu ekonomi Profesor Joseph Stiglitz mengusulkan 11 area yang perlu ditambahkan dan diperhitungkan dalam pengukuran index Produk Domestik Bruto (PDB). Tujuannya untuk memberi arah bagi kebijakan yang lebih tepat sasaran dalam rangka menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Ke-11 sektor itu adalah: 1). Perumahan; 2). Pendapatan; 3). Ketenagakerjaan; 4). Hubungan kemasyarakatan; 5). Pendidikan; 6). Lingkungan; 7). pelayanan publik; 8). Kesehatan; 9). Kepuasan secara umum; 10). Keamanan; dan 11). Keseimbangan antara kerja dan keluarga.

Parameter baru untuk menakar kebahagiaan tersebut dipakai setelah pada pertengahan 2011, OECD (Organization for Economic Corporation Development), yang merupakan kumpulan dari negara-negara kaya, memasukkan ke-11 sektor itu sebagai pembanding terhadap ukuran PDB. Fokusnya terletak pada aspek manusia yang menghasilkan PDB tersebut. Indeks tersebut secara resmi disebut sebagai "Your better life index" yaitu indeks yang mengukur kesejahteraan dan persepsi dari kondisi kehidupan, bukan sekadar ukuran kuantitatif ala PDB.

Di Indonesia, untuk pertama kalinya Index Kebahagiaan Indonesia 2013 dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada pertengahan tahun ini, yaitu tercatat sebesar 65,11 persen.

Hanya saja, BPS menggunakan 10 indikator survei terhadap 10.000 sampling rumah tangga, yaitu mengenai pekerjaan, pendapatan rumah tangga, kondisi rumah dan aset, pendidikan, kesehatan, keharmonisan keluarga, hubungan sosial, ketersediaan waktu luang, kondisi lingkungan dan kondisi keamanan.

Hasilnya? Penduduk di perkotaan relatif lebih bahagia daripada penduduk di pedesaan, semakin tinggi rata rata pendapatan rumah tangga maka semakin tinggi pula indeks kebahagiaannya.

Pada tingkat pendapatan lebih dari Rp 7,2 juta per bulan indeks kebahagiaan mencapai 74,64, sementara tingkat pendapatan Rp 1,8 juta ke bawah, indeks kebahagiaannya hanya 61,80.

Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula indeks kebahagiaannya. Penduduk dengan pendidikan yang tidak lulus SD, indeks kebahagiaan mencapai 62. Sementara penduduk dengan pendidikan semakin tinggi mempunyai indeks kebahagiaan 75,58.

Penduduk yang sudah berumur 65 tahun ke atas cenderung lebih rendah indeks kebahagiaannya yaitu 63,94.
BPS mencatat penduduk yang berstatus belum kawin dan yang kawin cenderung serupa, dengan indeks kebahagiaan 65. Bagi penduduk yang berstatus cerai, indeks kebahagiaannya lebih rendah, yakni cerai hidup 60,55 dan cerai mati 63,49.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pun membuat indeks serupa, yaitu Human Development Index (Indeks Pembangunan Manusia - IPM). Untuk periode 1980-2011, IPM Indonesia naik dari 0,423 menjadi 0,617, meningkat 45,9 persen atau rata-rata 1,2 persen per tahun.

IPM 2011 memperlihatkan IPM Indonesia tercatat sebesar 0,617 naik satu peringkat di peringkat 124 dari 187 negara yang disurvei. Kendati IPM tersebut naik dari nilai 0,600 pada tahun 2010, dari sisi peringkat turun dari sebelumnya 108 dari 169 negara yang disurvei.

Menurut ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih, dibandingkan dengan indeks kebahagiaan, IPM belum menangkap secara utuh rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat. PBB membagi IPM menjadi 4 kategori yaitu 1). Very High HDI; 2). High HDI; 3). Medium HDI; dan 4). Low HDI. Indonesia masuk dalam kategori Medium HDI, tetapi ada di peringkat terendah di antara negara-negara ASEAN 5.

Mungkin Indonesia perlu mencontoh kerajaan Bhutan yang jelas-jelas mencanangkan bahwa tujuan utama Pemerintah membahagiakan rakyat. Bhutan berusaha keras untuk mewujudkan Gross National Happiness sebagai salah satu alternatif indikator pembangunan.

Yang pasti, ekonomi kebahagiaan itu tidak ada hubungannya dengan iklan sebuah merek rokok yang berbunyi: Yang penting, hepi!

Berikut adalah 10 negara paling bahagia di dunia berdasarkan indeks yang dibuat OECD tahun 2014
1. Australia
2. Norwegia
3. Swedia
4. Denmark
5. Kanada
6. Swiss
7. Amerika Serikat
8. Finlandia
9. Belanda
10. Selandia Baru