Selamat Hari Aksara Internasional

Ada yang luput dari perhatian banyak media yang seharusnya ada di garda depan kampanye literasi, yaitu hari Aksara Internasional yang diperingati setiap tanggal 20 September.

Literasi memang luas cakupannya. Tidak hanya urusan melek huruf, tetapi juga melek-melek yang lainnya, seperti melek finansial, melek politik, melek investasi.

Namun, urusan per'melek'an tentu sedikit banyak berurusan dengan jendela ilmu alias buku.

Buku, Jembatan antargenerasi? Apa sih gunanya buku? Bagi saya pribadi, selain untuk mengabadikan ide supaya tidak lenyap ditelan waktu, buku ternyata bisa menjadi jembatan antargenerasi.

Anak saya mulai menyukai komik lusuh keluaran Walt Disney entah mulai beberapa bulan yang lalu. Komik itu lebih menarik daripada kebiasaan yang mulai saya rasa merisaukan beberapa tahun terakhir: main game atau nonton TV. Merisaukan karena pendidikan yang saya peroleh lebih menempatkan membaca buku, menulis di tempat yang lebih tinggi daripada menjadi penikmat secara pasif. Preferensi generasi. Beda generasi beda preferensi.

Namun kehadiran buku di tengah-tengah keluarga, seolah menjadi jembatan generasi itu.

Saya tidak ingat sejak kapan anak saya mulai merengek minta diajak ke toko buku. Tidak selalu untuk beli buku, tapi lebih untuk memilih-milih buku dan membaca sesukannya (kecuali buku yang masih dibungkus tentunya).

Pengalaman anak saya dan pengalaman saya menjadi serupa berkat buku.

Festival Taman Bacaan Masyarakat, Festival Literasi
Karena itu, Festival Taman Bacaan Masyarakat yang dilaksanakan nun di Kendari, Sulawesi Tenggara, dihadiri oleh 150 penggiat literasi untuk merayakan hari Literasi secara nasional, meskipun  mendapat liputan yang minim dari media, bagi saya tetap memberi secercah harapan bagi masyarakat. Apalagi berbagai taman bacaan yang merupakan inisiatif dari komunitas di tengah minimnya peran permerintah melalui perpustakaan daerah untuk mengembangkan budaya baca di masyarakat.

Taman bacaan masyarakat yang semula untuk merawat minat baca warga yang telah terbebas dari buta aksara, telah berkembang, dengan ragam kreativitas untuk menghidupkan kecintaan pada literasi. Tidak hanya membaca, warga komunitas juga dapat belajar teknologi informasi, bahasa asing, bahkan referensi untuk praktikum atau kewirausahaan.

Singkatnya, peran taman bacaan berkembang sebagai sarana pemberdayaan masyarakat melalui gemar membaca dan belajar.

Setelah Membaca, Selanjutnya MenulisDengan masyarakat yang gemar membaca, kita boleh berharap bahwa masyarakat kita juga pada gilirannya akan gemar menulis. Semakin bermutu bacaan, semakin bermutu tulisan. Itu hukumnya.

Untuk anak perempuan saya ternyata hasilnya bukan sebuah tulisan namun berupa komik strip. Tak mengapa komik juga literasi, bukan?





Post a Comment

0 Comments