Berapa Banyak Iklan Sudah Anda Tonton?

Berapa banyak iklan yang pernah kita tonton selama hidup? Dulu pada dekade 80 an ketika televisi masih satu stasiun dan kanal video yang ada amatlah terbatas, mulai dari bioskop hingga layar tancap,    iklan yang ditonton bisa dihitung dengan jari.

Meskipun sedikit, iklan yang memang didesain untuk menyentuh lapisan bawah sadar dan emosi konsumen memang suka tidak suka membentuk topografi bawah sadar generasi demi generasi.

Iklan di Era Digital
Di zaman digital ini, para warga pribumi digital (digital native) ber-gen Z terlahir dengan gadget di samping mereka. Gadget/mobiles adalah layar keempat yang disaksikan oleh peradaban umat manusia setelah layar bioskop,  TV dan komputer, dan yang paling intim karena melekat kemana pun si manusia pergi dan berada.

Bisa dibayangkan seperti apa iklan yang mengepung, menyergap dan hadir dalam setiap mimpi manusia zaman ini. Jumlahnya tak terhitung dan berebut perhatian. Di rumah, di kantor, di jalan, di mana pun.

Karena itu jika pertanyaan yang sama di awal tulisan ini kita tanyakan pada generasi ini, berapa  banyak iklan yang terlihat oleh mereka, tentu jawabannya adalah tak terhitung.

Tantangan dan Peluang bagi Kreator Iklan
Bagi para kreator iklan, peradaban digital ini bisa jadi pedang bermata dua. Pertama, peluang ekonomi menjadi tak terbatas karena medium iklan menjadi semakin tak terbatas dan materi bisa menjadi sangat subtil dan soft selling. Iklan minuman suplemen tidak lagi  tampil dengan artis yang selesai olahraga dan minum minuman tersebut tetapi seorang remaja yang mau menyatakan cinta, dan membuatnya kehilangan ion tubuhnya. Absurd, memang!

Belum lagi komodifikasi benda-benda konsumsi baru yang diciptakan. Dua puluh tahun lalu tak dikenal kata halitosis aka bau mulut, lubang nano di gigi, omega 3, pro biotik sang bakteri baik dan berbagai temuan kreativitas lainnya.

Di lain sisi, para kreator iklan dihadapkan pada perebutan perhatian konsumen yang membutuhkan pengalaman WOW karena semakin sering karena semakin pendeknya span perhatian karena gampang terdistraksi dan juga cepat bosan.

Kreativitas Beriklan
Lepas dari itu semua, kudos untuk kreativitas para kreator iklan yang dengan cara mereka selalu menemukan celah untuk menampilkan ide kreatif dan inovatif mereka. Hari ini saya dibuat tersenyum oleh sebuah iklan rokok yang cerdas karena 'menembak' banyak target dengan satu peluru!   Di tengah berbagai pembatasan dalam beriklan rokok, toh larangan bisa jadi senjata untuk menyindir dan menohok tentang tidak efektifnya pembatasan sekaligus masih 'sempet sempetnya' menyapa khalayak melalui pop culture yang sedang hype tentang 'kebutuhan untuk eksis' secara jenaka.

Iklan itu membuat saya mencari kembali iklan itu untuk kepentingan tulisan ini. Dan pencarian itu mengantar pada kaleidoskop yang merekam iklan-iklan jadul yang telah turut membentuk alam bawah sadar beberapa generasi manusia Indonesia.
Post scriptum: Tahun lalu, di Amerika Serikat, pemasukan iklan di internet untuk pertama kalinya mengalahkan pemasukan iklan televisi. Menurut Interactive Advertising Bureau, pemasukan iklan internet sebesar 42,8 milyar dolar, mengungguli iklan TV sebesar 40,1 milyar dolar. Syahdan, iklan TV yang pertama kali naik tayang sejak 1 Juli 1941 di stasiun TV WNBT di New York yang menayangkan iklan jam tangan Bulova sebelum siaran pertanding baseball antara Philadelphia Phillies versus Broklyn Dodgers, dilaporkan membayar 9 dolar untuk 20 detik tayang. Digambarkan jam berdetak di atas peta Amerika Serikat dengan voice over "America runs on Bulova time." Sementara itu, di Inggris, pada 22 September 1955, stasiun TV (Independent Television) untuk pertama kalinya menyiarkan iklan TV Inggris. Produk yang diiklankan adalah pasti gigi Gibbs SR yang muncul pada pukul 21.12. Konon, semenjak itu TV menjadi primadona untuk beriklan.









Post a Comment

0 Comments