Status di laman jejaring sosial banyak rekan terutama mengenai apa yang mereka rasakan dan lakukan saat weekend menarik perhatian saya baru-baru ini. Mengapa? Karena mereka secara unison mengekspresikan kelelahan yang teramat sangat sehingga weekend menjadi saat istirahat total.

"Gua ingin tidur sampai siang. Capek. Untuk angkat telpon, pesan makanan deliverypun rasanya berat banget." kata seseorang.

"Uffft, membayangkan pijat badan enak nih," kata seorang yang lain.

Capek, lelah, exhausted memang menjadi cuaca yang menggelayuti manusia moderen sepanjang tahun. Seperti halnya cuaca, semua tanpa pandang strata sosial tidak kalis dari kelelahan akut ini.

Filsuf Prancis bernama Jean Baudrillard jauh jauh hari meramalkan hal ini ketika ia menulis buku berjudul La Societe de Consommation (Masyarakat Konsumen) di awal tahun 70 an. Ia menggambarkan peralihan mendalam yang terjadi dalam masyarakat akibat era produksi yang berkembang berlipat ganda berkat penemuan mesin-mesin produksi massal sehingga konsekuensi logis dan niscaya dari era itu adalah dibangunnya masyarakat konsumen yang menopang agar siklus produksi tetap berjalan.

Ciri yang menjadi suasana masyarakat konsumen adalah larutnya nilai-nilai yang dulunya melekat pada barang dan jasa yang diproduksi, dari yang bernilai fungsional atau nilai gunanya, menjadi nilai hybrid, nilai rekaan baru yang bisa dilekatkan pada apa saja, entah itu status sosial, prestise, komunitas, hobby, etnisitas, bahkan agama. Ada proses komodifikasi besar-besaran yang tengah terjadi yang membuat orang tidak lagi mengkonsumsi karena butuh, tetapi karena barang/jasa itu telah menjadi berlimpah ruah dan karenanya siklus hidupnya menjadi lebih pendek di pasar, karena itu lewat kampanye yang sistematis, masif, dan seringkali mencapai titik nadir mendekati teroris, para produsen harus memastikan konsumen disergap kapan saja dan di mana saja agar si konsumen mengkonsumsi secara habis-habisan dan rakus.

Transisi mendalam masyarakat juga diungkapkan oleh filsuf Marxis Emile Durkheim yang menyoroti peralihan masyarakat paguyuban menjadi masyarakat patembayan. Paguyuban yang didasarkan pada nilai-nilai tradisional berubah menjadi ikatan yang didasarkan pada nilai-nilai baru masyarakat moderen, seperti pekerjaan, minat, tujuan bersama dan lain sebagainya.

Baik Baudrillard dan Durkheim mengaminkan bahwa individu adalah korban yang niscaya. Sama sekali tidak ada harapan untuk bisa keluar dari situasi ini kecuali memaksa diri hanyut dan larut. Namun untuk hanyut dan larut pun tentu tidak mudah karena nilai-nilai yang terus bergeser dan berubah, sedangkan manusia pada dasarnya selalu mencari nilai yang bisa mereka jadikan pegangan dalam hidup. Seperti terapung di tengah-tengah samudra yang penuh hiu, begitulah kiranya gambaran manusia pada zaman ini. Ia didera cemas, ketidakberdayaan dan hilang harapan.

Sejauh ia masih hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat yang tengah tunggang langgang seperti itu, lelah dan bosan akan jadi menu yang harus mereka jumpai sepanjang hari sampai akhir hayat. Mengapa? Manusia di masyarakat masa kini harus memaksa diri mereka cocok dengan masyarakat supaya mereka dapat diterima dan bertahan hidup. Jika tidak mereka akan dianggap asing, alien dan gila. Tak ada seorangpun yang mau hidup di luar masyarakat karena manusia secara inheren mahluk sosial

Karena itu, tidak mengherankan jika beberapa orang mencoba mendekatkan diri pada komunitas-komunitas primordial, kultus-kultus agama moderen. Itu adalah bagian dari pencarian pegangan hidup dengan harapan dapat melepaskan diri dari samudra situasi yang serba tak pasti tersebut. Hanya dalam komunitas dan kultus itulah nilai-nilai dasar kembali dihidupkan dan dihidupi. Apakah nilai-nilai yang dulunya hampir punah itu compatible dengan masyarakat moderen atau komunitas atau kultus itu hanya sekedar retreat dari situasi tanpa benar-benar membebaskan si manusia dari cengkeraman zaman? Tak seorangpun tahu.

Film American Beauty mungkin salah satu protret bagaimana manusia berada dalam situasi masyarakat yang tengah berubah.

Kalau ingin sukses, kamu harus tampak sukses dimanapun dan kapanpun, kalau ingin bahagia kamu harus tampak bahagia di mana pun dan kapan pun.
Apa yang kemudian terjadi? Semuanya adalah rekaan yang superfisial, di permukaan saja. Tidak heran, orang sering dikejutkan oleh kenyataan yang susah diterima akal sehat: orang yang track record baik, melakukan kejahatan. Orang yang tampak alim ternyata adalah psikopat predator. Jangan-jangan itu hanya ujung tak tertahankan dari kelelahan akut yang membuat manusia tak berdaya, seperti zombie, terperangkap dalam wadagnya.

Masih lelah, atau malah tambah lelah?