Ini Alasan Perempuan Perlu Belajar Koding Komputer?

Berapa lama seseorang bisa menjadi ahli dalam keterampilan atau profesi tertentu. Ada yang bilang 10.000 jam. Malcolm Gladwell adalah salah satu esais yang percaya pada aksioma itu. Dalam bukunya yang berjudul Outlier, kurang lebih ia menilik bagaimana para jenius dunia, mulai dari pendiri Microsoft Bill Gates, pendiri Apple, Steve Jobs, grup musik the Beatles mencapai 10.000 jam pertama mereka sedini mungkin dalam periode emas mereka. 

Jika postulat itu benar, cukup beralasan kalau supermodel ternama Karlie Kloss berujar,"Perempuan muda perlu sedini mungkin belajar kode komputer agar perempuan dapat memberikan suara bagi dunia." (Time, 9/4). 

Melampaui batas modeling, Karlie ingin berkontribusi lebih besar terhadap industri teknologi informasi dan komunikasi melalui program Kode with Karlie's Scholarship dengan bekerja sama dengan Flatiron School di New York. Iklan program diunggah di Youtube dan sejak musim panas lalu, Karlie telah mengajar 20 perempuan antara 13 tahun hingga 18 tahun mengenai kode program komputer. 

Karlie mungkin bukan yang pertama menggagas program nirlaba serupa yang pernah diusung oleh Bill Gates dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg melalui code.org. Ada juga Kimberly Bryant, insinyur berdarah Afrika Amerika yang menggagas Black Girls Code untuk perempuan kulit hitam. 

Mengapa perempuan? Lulusan teknologi informasi dan komunikasi yang berjender hawa secara global hanya sebesar 12 persen, dan tentu di beberapa belahan dunia seperti Indonesia, prosentase bisa jadi jauh lebih kecil. 

Kesetaraan akses ke teknologi informasi dan komunikasi selain terkait hak asasi manusia juga terkait hak ekonomi. Laporan Bank Dunia di tahun 2009 memperkirakan setiap 10 persen peningkatan akses pita lebar di negara berkembang mampu menaikan pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 1,38 persen. Studi Intel "Women and the Web (2013) mengatakan, perempuan berkontribusi lebih banyak pada PDB manakala ia punya akses ke internet. Saat 600 juta perempuan dan anak perempuan mendapat akses, mereka diperkirakan mampu meningkatkan PDB global antara 13-18 milyar dolar Amerika. 

Menurut laporan International Telecommunication Union dan UNESCO "Doubling Digital Opportunities (2013), perempuan pengguna internet di Indonesia kurang dari 45 persen dari keseluruhan jumlah pengguna tahun 2009. Jumlah ini lebih sedikit dibanding Tiongkok, Mesir, Kanada dan Polandia yang berkisar antara 45-50 persen. 

Biang keroknya adalah ketidakmerataan sebaran jaringan internet di Indonesia yang terkonsentrasi di Jawa dan wilayah barat Nusantara. Belum hambatan budaya, takut tampak gaptek, memperkuat stereotip seolah-olah urusan digital adalah dunia lelaki. 

Pemerintah menargetkan pemerataan pembangunan infrastruktur pita lebar untuk meningkatkan penetrasi akses internet melalui salah satunya program Indonesia Digital Network dengan target capaian 18,7 juta akses pita lebar tahun ini. Februari lalu, Telkom merilis data 3,4 juta rumah telah terkoneksi dan 13,3 juta rumah terlalui akses pita lebar. 

Jika di kawasan barat Indonesia, fokusnya adalah intensifikasi kualitas layanan, di kawasan timur, fokusnya adalah pembangunan infrastruktur jaringan, seperti Maluku Cable System, Papua Cable System dan Palap Ring-East Indonesia. 

Pemerataan akses tentu perlu dibarengi dengan literasi akses karena teknologi informasi dan komunikasi juga berguna dan efektif membantu perempuan untuk berkontribusi lebih besar bagi ekonomi keluarga. Terlebih lagi, perempuan dapat menyebarkan informasi akan hak-hak mereka, seperti aspirasi politik, kesehatan reproduksi, pendidikan anak, dan lain sebagainya. 

Tentu proses masih panjang dan terjal menuju kesetaraan akses. Karlie, Kimberly sukses menggerakkan kamu perempuan untuk belajar kode program. Bagaimana perempuan Indonesia? Hey, bangun!


Ditulis ulang dari Kompas cetak 28 April 

Post a Comment

0 Comments