Bertutur tentang Kisah-Kisah Hebat Bisnis melalui Pendekatan Jurnalistik


Sekitar tiga tahun lalu, pakar public relations Mark Ragan, CEO dan pendiri Ragan.com dan PR Daily memperkenalkan istilah brand journalism (jurnalisme merek) untuk menunjuk pendekatan yang mencoba meramu disiplin jurnalistik dan pemahaman mengenai brand. 

Beberapa pebisnis mencoba bereksperimen dengan pendekatan baru tersebut untuk bertutur mengenai kisah-kisah hebat bisnis mereka secara lebih jujur, faktual, objektif dan terpercaya. Lebih jauh bahkan beberapa merekrut jurnalis sebagai bagian dari eksperimen pendekatan baru tersebut. 

Tentu pendekatan ini tidak kalis kritik, karena beberapa kalangan meragukan pendekan brand journalism akan sungguh mantap terkait nature jurnalisme yang cenderung kritis dan menjunjung tinggi kepentingan umum (common good) sehingga dikhawatirkan akan bertabrakan dengan kepentingan lain, termasuk kepentingan bisnis/perusahaan. 

Ada yang bilang jurnalisme merek terdengar seperti oxymoron. Bagaimana mungkin seorang jurnalis dapat menjadi pentutur merek yang meyakinkan tanpa mengorbankan objektivitasnya. 

Terkait hal itu, Content Marketing Institute mencoba menilik apa saja yang perlu diperhatikan dalam eksperimen brand journalism, terutama terhadap perusahaan yang mempekerjakan wartawan untuk menuturkan kisah-kisah hebat bisnis bagi khalayak umum atau calon pelanggan mereka.  

1. Pelajari bagaimana cara kerja jurnalistik. 
Apa saja prinsip-prinsip yang harus ditaati dalam jurnalisme. Amati praktek-praktek terbaik dalam jurnalisme dan terjemahkan dalam eksekusi program-progam pemasaran. 

2. Gunakan pendekatan brand journalism untuk membuat bisnis menjadi semakin terhubung dan relevan bagi pelanggan/klien
Kebanyakan bisnis terpaku pada pemasaran produk, sarat dengan informasi produk dan lupa bahwa terkadang kisah hebat, testimoni yang luar biasa dan inspiratif terkadang jauh lebih menarik perhatian bagi pelanggan dan calon pelanggan. 

3. Pastikan jurnalis memahami formula dasar perusahaan 
Jurnalis perlu diperkenalkan pada visi dasar perusahaan, nilai, proses kerja sehingga dapat membangun kisah hebat dengan lebih solid dan sesuai dengan harapan dan kepentingan bisnis. 

4. Bantu pembaca/audiens/pelanggan menjadi “better customer”
Pengetahuan yang informatif yang disampaikan dengan cara yang insightful, menghibur, atau produktif, ialah bagaimana corporate media seharusnya. Jika kontennya tidak legitimate, maka tidak dapat memenuhi baik kebutuhan perusahaan ataupun pelanggan.

5. Mengedukasi
Walaupun brand journalism ialah soft advertising, misi pertamanya haruslah merupakan edukasi. Jurnalis harus mendapatkan segala fakta dan nuances dari sumber yang tepat untuk memberikan captivating story yang akan menarik perhatian pada brand. 

6. Pastikan untuk senantiasa mengukur berapa besar energi dan resource yang dikeluarkan dan seberapa besar hasil dan output yang dicapai. 
Menerapkan pengukuran terhadap respon dari khalayak  brand journalism amatlah penting untuk mengukur readership dan ROI. Menggunakan analytics dan SEO akan membantu pengolahan strategi anda, seperti jenis konten apa yang perlu dibangun. Anda perlu konten kualitas yang dapat diukur (termasuk page view, waktu yang dihabiskan di situs, social sharing, kunjungan, komentar, inbound link, dll).



7. Gunakan brand journalism sebagai bagian strategi komunikasi
Kesuksesannya berasal dari waktu yang dihabiskan untuk membangun konten yang kredibel dan engaging untuk audiens yang tepat.


Disarikan dan ditulis ulang dari sumber: Content Marketing Institute

Bonus:
Karena Anda telah membaca tulisan hingga akhir, berikut ini adalah e-book terbitan Hubspot yang memberikan panduan bagi para Chief Marketing Officer mengenai Brand Journalism, mulai dari konsep dasar, cara kerja, perekrutan staf, praktek terbaik hingga kode etik. Ebook dapat diunduh di sini.


Previous Post Next Post