Ekosistem Digital

Akhir-akhir ini banyak pembicara publik mulai latah mempergunakan jargon 1.0, 2.0, 3.0, bahkan 4.0! Seolah-olah semakin banyak versinya, semakin canggihlah ia.

Padahal kita belajar dari habitat di mana jargon itu lahir, yaitu dunia teknologi informasi, angka versi sekedar menunjukkan perbedaan dan penyempurnaan dari versi sebelumnya yang diketemukan lubang kelemahan. Selain itu, versi baru mengikuti perkembangan teknologi yang ada di industri. Namun, belum tentu versi sebelumnya lebih baik.

Kalau kita coba lihat piranti lunak (software) atau aplikasi, dalam hitungan bulan ke bulan sudah muncul versi-versi baru. Versi baru memang menuntut dari sisi pengguna untuk mengkinikan, update. Yang sering dialami, jika tidak diupdate yang terjadi justru layanan jadi tidak bisa dipakai sama sekali. Misalnya, kalau sistem operasinya tidak lagi compatible dengan persyaratan aplikasi. Akibatnya, dari sisi pengguna, semua yang dihasilkan itu hanya akan menjadi sampah pada akhirnya. Bahkan umur setiap versi menjadi semakin pendek.

Seperti baru kemarin saat Windows meluncurkan Windows Vista untuk menggantikan Windows 2000 yang juga menggantikan Windows 98. Banyak rekan pada tahun-tahun itu mengeluhkan mengapa harus ada program yang baru yang tidak terlalu membantu. Pun seperti baru kemarin, Samsung mengeluarkan Galaxy S3, tanpa saya sadari sudah muncul Samsung Galaxy S5. Kamera Nikon D300s yang saya beli di tahun 2010 rasa-rasanya sudah canggih dengan fitur multi-focus dan bisa HD video. Hari ini, tak tahu lagi seri berapa yang 'paling baru'.

Mengherankan bahwa logika teknologi informasi telah begitu masif menyeret peradaban ke dunia yang terus berlari dan semakin lama semakin kencang. Seolah-olah (atau memang), tidak peduli betapa manusia sebagai pemakai semakin lama semakin terseok-seok. Manusia semakin tertinggal, seberapapun dia berusaha mengejar ketertinggalan. Perkembangan teknologi digital berlari terlampau cepat, dan rupanya industri, pasar, peradaban juga tak mau kalah, ikut berlari.

Hari-hari ini, semua bicara dengan gamang mengenai Masyarakat Ekonomi Asia yang efektif tahun 2015. Ada perasaan terancam, takut bagaimana jika sumber daya Indonesia tidak kompetitif, dan bisa tergantikan dengan sumber daya negara tetangga. Orang berbicara mengenai upgrade, sertifikasi dan kompetisi.

Semua terkena virus: merasa harus selalu update, mengupgrade diri. Dunia kiamat jika tidak berubah. Perubahan, transformasi, update menjadi jargon yang sekarang terlalu sering terdengar di seminar, televisi, radio, workshop, meeting korporasi, bahkan di pertemuan-pertemuan informal.

Jaringan, jejaring, keterhubungan (interconnectedness) yang lebih intensif dan masif dibandingkan peradaban sebelumnya karena dipicu dan dipacu perkembangan teknologi digital, memang telah menataulang ekosistem dunia.

Jauh-jauh hari profesor political science Anthony Giddens membaca tren perubahan ini sebagai 'dunia yang berlari' (runaway world). Ia menyebut globalisasi sebagai salah satu biang keladi perubahan peradaban yang begitu masif ini. Ia menulis 'Before the current global era it is impossible to imagine that comparable events [like September 11 could have occurred, reflecting as they do our new-found interdependence. The rise of global terrorism, like world-wide networks involving in money-laundering, drug-running and other forums of organised crime, are all parts of the dark side of globalisation.

Semua diskursus di atas memang menantang semua orang untuk senantiasa berhenti sejenak berefleksi dan bertanya pada diri sendiri: seperti apakah wajah dunia di masa yang akan datang? Seperti apakah habitat dan ekosistem baru tempat anak-anak kita akan hidup, katakanlah, 50 tahun atau 100 tahun dari sekarang?

Tiba-tiba saja, saya teringat salah satu Standup Komedian Indonesia bernama Cak Lontong. Di hampir setiap lawakan, ia selalu berhenti untuk mengajak penonton 'Mikir' atau setidaknya 'Pura pura mikir'. Nah, saya kira ini saat yang tepat untuk 'Mikir'.

Post a Comment

0 Comments